Kau memberi seberkas kebahagiaan di kala pagi, membuatku terbunga-bunga dan bahagia saat merasakan itu semua.
Kau datang lagi pada malam hari, menyambut malamku yang terbiasa sunyi dengan seberkas hal yang melukai hati.
Kau datang padaku, membuatku tersenyum dan bahagia. Tak setelah itu, kau meninggalkan luka dalam hati ini.
Kau datang bukan karena mencariku, melainkan kau ingin meminta pendapat tentang sahabatku yang sangat baru aku tau kau menyukainya dari dulu. Dan terlebihnya lagi, kau mendekatiku untuk mendapatkan sahabatku.
Aku tersenyum ketika kau memberiku secerca pertanyaan tentang sahabatku. Tersenyum, dengan air mata yang aku tahan. Aku hanya menatap langit-langit ruangan dengan nanar, tak bernyali aku untuk menatapmu sekejap saja. Aku takut, air mata ini tumpah hingga tak bisa terbendung.
Kau membawakan sahabatku sebuah bingkisan, yang tadinya aku kira itu untukku. Yah, memang tadi kadar percaya diriku sangat besar. Tentu saja sebelum aku mengetahui bahwa sebenarnya bingkisan itu tertuju untuk siapa.
Kau tak mampu melihat air mata yang aku tahan, kesakitan yang aku pendam, dan kau tak mampu menafsirkan arti sebuah senyumku yang terlontar ketika kau menyebut nama sahabatku dengan wajah berseri-seri serta mata yang berbinar-binar.
Kini aku tau, kau hadir padaku tetap saja untuk memberiku luka. Menghadirkan derita dan sesak dalam hati.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar